HMJ MPI Mengikuti DEMA/SEMA Leadership Excursion

Senin, 12 November 2018, Dr. H. Waryono Abdul Ghofur, M. Ag selaku wakil Rektor III bidang kemahasiswaan dan kerjasama melepas 21 rombongan yang akan berangkat melaksanakan kegiatan Leadership Excursion ke Singapore dan Malaysia. Dari 21 orang rombongan 16 di antanya adalah mahasiswa dan 5 orang lainnya adalah pendamping. Dari 16 mahasiswa 7 delegasi dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan 2 di antaranya mahasiswa dari Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) yaitu Sri Damayanti (Ketua HMJ MPI) dan Moh. Zodikin Zani (Pimpinan Umum Lembaga Pers Mahasiswa Paradigma).

Kegiatan student exchange ini merupakan kegiatan Leadership Excursion yang ditujukan bagi mahasiswa yang berkedudukan di lembaga kepemerintahan mahasiswa seperti Senat Mahasiswa, Dewan Eksekutif Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Program Studi yang didelegasikan oleh setiap fakultas. Kegiatan ini selain bertujuan meningkatkan karakteristik para pemimpin Lembaga Kepemerintahan Mahasiswa dan meninjau sitem manajemen organisasi di Negara tetangga, kegiatan ini juga bertujuan untuk memberikan sebuah pembelajaran dan inovasi dalam kegiatan kemahasiswaan baik dalam dinamika organisasi maupun proses kegiatan akademik. Terlebih pada bula Desember mendatang akan diadakannya pelaksanaan proses Pemilu Raya, dalam hal ini dimaksudkan pula untuk memberikan warna baru dalam proses Pemilihan Mahasiswa (PEMILWA). Dengan pengalaman ini nantinya sangat diharapkan budaya dan nilai-nilai baik yang diperoleh dapat diadopsi dan diterapkan di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kegiatan ini berlangsung selama 6 hari yaitu 3 hari di Singapura dan 3 hari di Malaysia. 3 hari di Singapura kami mengunjungi di antaranya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia, National University of Singapore (NUS) tepatnya pada Department of Malay Studies, University of Liverpool di Temasek Polytechnic Campus pada Faculty of Criminology and Sociology, kemudian Singapore Institute of Management (SIM). Selain itu kami juga berteumu dengan Perkumpulan Pelajar Indonesia Singapura (PPIS). 3 hari di Singapura ini memberikan kesan dan kesadaran yang sangat dalam bagi kami terutama bagi saya pribadi. Bukan hanya dilihat dari factor pendidikannya saja yang memang sangat disiplin tapi lingkungan di Negara ini memang sangat disiplin, dapat dilihat dari kebersihan lingkungan yang memang tidak ada sampah bertebaran, bukan hanya di lingkungan akademik seperti kampus saja bahkan dikota besar dengan keramaian orang jarang sekali kami menemui sampah.

Memang dikenal sebagai Negara yang secara personal adalah individualis tetapi tetap saling menghormati dan menghargai termasuk kepada orang asing (tourism), budaya social di singapura sangat tertib dan tepat waktu, bahkan sampai aada aturan bagi pejalan kaki. Tidak banyak kami temui kendaraan pribadi disini karena yang memiliki kendaraan pribadi sudah dipastikan mereka adalah orang sangat kaya disana karena pajak kendaraan yang sangat mahal, masyarakat menggunaka transportasi umum sebagai alternative bus, MRT dan berjalan kaki. Begitupun dengan kami di sana kami memanfaatkan fasilitas umum yang ada, meskipun begitu harus tetap berjalan kaki untuk sampai halte ataupun stasiunn, dan saya merasakan sensasi berjlan kaki yang sangat luar biasa selama di Singapura. 3 hari kami berada di Singapura untuk berjalan kaki mungkin sudah sama dengan berjalan mengelilingi Kota Jogja. Jadi dengan adanya budaya disiplin waktu yang di terapkan di Negara ini maka siapa yang terlambat/ malas maka akan tertinggal. Begitupun dengan budaya akademik dan keorganisasian disana. Para mahasiswa benar-benar fokus untuk belajar dn berupaya mendapatkan nilai yang maksimal, selain karena memang biaya kuliah yang mahal jika mahasiswa malas maka akan tertinggal jaun dibandingkan teman-teman yang lainnya karena daya saing mereka disana lebih kuat. Kultur diskusi di dalam kelaspun sagat bagus, dan lagi-lagi semangat dosenlah yang membawa mahasiswanya untuk semangat belajar. Pun pada budaya organisasinya, mereka sangat totalitas dan professional. Untuk menjadi pengurus dari student counsil benar benar diselesi dengan baik, harus memiliki semangat yang tinggi, mampu bekerja sama dan siap mengabdi menjalankan fungsi dan tugasnya. Jika tidak aktif selama beberapa waktu dalam kepengurusan makan akan langsung diberhentikan. Untuk system pemilihan sendiri, kandidat harus memenuhi persyaratan yg telah ditetapkan dan mendapatkan recomendasi dari beberapa pihak. Untuk belajar mengenal kultur budaya disini kami juga mengunjungi beberapa tempat yang ramai dikunjungi oleh wisatawan diataranya Mustofa Center, Merlion Park, Bugis Street, Masjid Jamek.

Di Malaysia kami berkunjung ke International Islamic University of Malaysia dengan SRC (Student Representative Council). Kebetulan disini baru saja terlaksan Pemilu Raya, jika di UIN Sunan Kalijaga menciptakan system demokrasi seperti system demokrasi Negara Indonesia di IIUM pun mengikuti bagaimana system demokrasi yang ada di Negaranya, meskipun beberapa Universitas yang lain sudah berupah konsep menjadi system partai sebagai pendidikan politik bagi mahasiswanya. Sistem pemiihan kandidat di IIUM dengan mengajukan diri secara Induvidu ada semacam kampanye monolog sebagaiman yang ada di UIN. Dan yang memilih adalah setiap mahasiswa menggunakan hakpilih suara lagi-lagi sama seperti yang ada di Indonesia. Sebelum mencalonkan diri kandidat harus sudah memenuhi syarat mendapatkan rekomendasi dari beberapa pihak yakni, Dosen, pegawai TU, Pengurus Asrama. Untuk mendapatkan rekomendasi tersebut kandidat harus lulus dari beberapa aspek di antaranya Standar Nilai 2,75, Akhlak yang baik, dan mampu bekerja sama. Secara fungsi SRC sendiri tidak jauh berbeda dengan SEMA/DEMA. Untuk kultur budaya di Malaysia tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, sedangkan budaya akademiknya sekiranya mereka unggul di bidang bahasa karena memang University ini bertaraf International. Kami juga bertemu denga Perkumpulan Peajar Indonesia IIUM dan sharing terkait event, prestasi anak bangsa, dan lainya. Untuk belajar memahami kultur budaya di Malaysia kami mengunjungi beberapa kawasan yang kerap dikunungi oleh masyarakat seperti Batu Cave, Museum Negara, Pasar Seni, Petronas twin tower.

Dari kegiatan ini saya mendapat penegasan untuk terus menngkatkan kapasitas diri secara pribadi, terlebih saai ini persaingan terus melaju, untuk bersaing dengan mahasiswa bertaraf internasional harus benar-mempersiapkan diri bukan hanya sebatas wacana tapi juga gagasan, skill dan penguasaan bahasa, saya rasa ini juga berlaku begi setiap pribadi mahasiswa, khusus mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Untuk mencapai hal itu sangat besar kiranya pengaruh fasilitas kampus, karena formalitas belajar bukan hanya sebatas di ruang kelas, akan jauh lebih baik jika pihak universitas menambahkan fasilitas umum yang dapat digunakan oleh mahasiswa diluar ruangan sebagai media diskusi, menyeslesaikan tugas kelompok ataupun yang lainya.

Sebagai mahasiswa selain kita mengejar prestasi akademik baik kiranya jika kita mempersiapkan skill dan jiwa social yang tinggi hal ini bisa kamu dapatkan dalam berorganisasi. Cobalah untuk terlibat dengan lingkungan sekitar, gunakan analisis sosialmu, terapkan segudang teori yang didapat dalam kelas. Untuk menjadi pemimpin tidaklah mudah, tak semudah kata-kata mutiara yang teruntai. Semestinya sudah menjadi fitrah manusia, ketika tak lagi hanya memikirka diri sendiri, harus mengalahkan ego untuk tidak peduli. Belajar berusaha mengerti, mendengarkan, memahami, berfikir dewasa, bijaksana, menenangkan dan memberi memberi solusi. Saya meyakini dan meyakinkan bahwa buah dari kerja keras dan kesabaran adalah sebuah nikmat tiada tara. Mulailah dari mana kau barada, gunakan apa yang kau punya dan lakukan yang kau bisa. Untuk menjadi pemimpin kamu harus siap memimpin dan dipimpin

Berita Terkait

Berita Terpopuler