Meneguhkan Kepemimpinan Berbasis Ihsan: Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Soroti Spiritualitas sebagai Inti Kepemimpinan Pendidikan

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang berakar pada nilai-nilai Islam melalui pengukuhan Guru Besar di bidang Kepemimpinan Pendidikan Islam. Dalam Sidang Senat Terbuka yang berlangsung pada 8 April 2026, Zainal Arifin resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dan menyampaikan pidato ilmiah bertajuk “Ihsan sebagai Puncak Motivasi Pemimpin Spiritual pada Lembaga Pendidikan Islam.”

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Zainal Arifin menggarisbawahi urgensi menghadirkan dimensi spiritual dalam praktik kepemimpinan pendidikan Islam, terutama di tengah arus modernitas yang sering kali menyingkirkan nilai-nilai transendental. Ia menempatkan konsep ihsan sebagai puncak dari pengamalan ajaran Islam sekaligus fondasi utama dalam membangun kepemimpinan yang bermakna dan berorientasi pada kemaslahatan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kepemimpinan spiritual tidak cukup hanya ditopang oleh kecakapan manajerial semata, melainkan juga harus dilandasi nilai-nilai batin seperti keikhlasan, integritas, serta kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam setiap tindakan. Dalam kerangka ini, ihsan menjadi sumber motivasi tertinggi yang mendorong pemimpin untuk melampaui kepentingan pribadi (self-transcendence) demi kepentingan bersama.

Prof. Zainal juga memaparkan tiga karakter utama yang harus dimiliki pemimpin spiritual di lembaga pendidikan Islam. Pertama, bekerja dengan niat tulus karena Allah SWT. Kedua, menjalankan tugas secara profesional dan berorientasi pada kualitas. Ketiga, memastikan setiap kebijakan dan program diarahkan untuk mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh pemangku kepentingan.

Dalam analisisnya, ia turut mengaitkan konsep ihsan dengan teori self-transcendence yang diperkenalkan oleh Abraham Maslow. Namun, ia menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, transendensi diri tidak berhenti pada aktualisasi personal, melainkan berorientasi pada hubungan dengan Allah SWT, sehingga melahirkan model kepemimpinan yang humanis sekaligus religius.

Implementasi kepemimpinan berbasis ihsan di lembaga pendidikan Islam, menurutnya, harus mampu menghadirkan lima dimensi kemaslahatan (maqashid syariah), yaitu perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Nilai-nilai ini tercermin dalam kebijakan pendidikan yang inklusif, berkeadilan, serta berorientasi pada kesejahteraan lahir dan batin seluruh warga lembaga.

Pengukuhan ini menjadi momentum strategis dalam memperkuat pengembangan keilmuan dan praktik kepemimpinan pendidikan Islam di Indonesia. Gagasan ihsan sebagai puncak motivasi diharapkan mampu melahirkan model kepemimpinan yang tidak hanya efektif secara organisatoris, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan dampak sosial yang luas.

Sidang senat terbuka tersebut turut dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, sivitas akademika, serta tamu undangan dari berbagai kalangan akademik dan profesional.