Kamis, 22 Februari 2018 14:09:19 WIB Dilihat : 223 kali

Akhir-akhir marak berkembangnya wacana dan gerakan Islam Radikal, baik di tengah-tengah masyarakat maupun kampus-kampus. Khususnya di kampus, perlu dibangun konsep Islam ramah sehingga mahasiswa dapat dijadikan agen-agen perdamaian di tengah-tengah masyarakat. Apa itu radikalisme dan dalil tentang larangan bersikap radikal, berikut ini penjelasan dari Dr. Yusuf Qardhawi:

Radikalisme Agama secara Bahasa

Radikalisme Keagamaan (at-tatharuf ad-diniy), berasal dari kata at-tatharuf, secara bahasa artinya “berdiri di ujung, jauh dari pertengahan’. Bisa juga diartikan berlebihan dalam sesuatu. Awalnya,kata tersebut digunakan untuk hal-hal yang konkret, seperti berlebihan (tatharuf) dalam berdiri, duduk, dan berjalan. Kemudian penggunaannya dialihkan untuk hal-hal yang bersifat abstrak, seperti berlebihan (tatharuf) dalam beragama, berpikir, dan berperilaku. Karena itu, tatharuf lebih dekat kepada kebinasaan dan bahaya, serta jauh dari keselamatan dan keamanan.

Islam Manhaj Moderat

Islam adalah sebuah manhaj yang moderat dalam segala sesuatu, baik dalam konsep, keyakinan, ibadah, akhlak dan perilaku, muamalah, maupun syariat. Sikap moderat (wasathiyah) merupakan salah satu karakteristik umum Islam, yaitu karakteristik mendasar yang digunakan Allah untuk membedakan dari umat lainnya. Allah swt. berfirman, Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ”umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia …(Al-Baqarah: 143)

Istilah-Istilah Radikalisme

Nash-nash Islam mengajak untuk bersikap moderat dan memperingatkan agar menjauhi radikalisme, yang diungkapkan melalui bahasa syariat dengan beberapa istilah. Di antaranya adalah berlebihan (ghuluw), melampaui batas (tanathu’), dank eras atau mempersulit (tasydid).

Hadis-hadis tentang larangan sikap berlebihan

PERTAMA, Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya, juga Nasa’I dan Ibnu Majah dalam Sunan mereka, Hakim dalam Mustadrak-nya, dari Ibnu Abbas ra bahwa Nabi saw bersabda: Jauhilah sikap berlebihan dalam beragama, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu hancur karena sikap berlebihan dalam beragama.

Orang-orang sebelum kita maksudnya adalah para penganut agama-agama terdahulu, khususnya ahlu kitab, lebih khusus lagi orang-orang Nasrani. Al-Qur’an telah berbicara kepada mereka dengan firman Allah Swt.: Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesat-kan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.”

KEDUA, Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibnu Mas’ud yang berkata, “Rasulullah saw bersabda, Sungguh binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan. Beliau mengucapkannya tiga kali.

Imam Nawawi berkata,”Mutanathi’un” adalah orang-orang yang melampau batas dalam ucapan dan perbuatan mereka.

KETIGA, Abu Ya’la meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah saw bersabda, Janganlah kalian bersikap keras terhadap diri sendiri, sehingga ditetapkan ketentuan yang keras bagi kalian. Sesungguhnya, ada suatu kaum yang bersikap keras terhadap diri mereka sendiri, lantas ditetapkan ketentuan yang keras bagi mereka. Itulah sisa-sisa mereka di sinagog-sinagog dan biara-biara..”Mereka mengada-adakan Rahbaniyah, padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka...

Kata “Rahbaniyah dalam Al-Qur’an Terjemahan Kementerian Agama artinya tidak beristri atau tidak bersuami dan mengurung diri dalam biara. Menurut Yusuf Qardhawi, Islam tidak mengakui anjuran agama-agama dan falsafah-falsafah lain untuk mengabaikan kehidupan materi demi kehidupan spiritual dengan menyiksa diri agar ruhani menjadi jernih dan meningkat serta pengabaian urusan dunia demi urusan akhirat.

Sebagaimana doa yang biasa kita panjatkan kepada Allah,

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”

Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan perlindungan bagi urusanku, perbaikilah duniaku yang di dalamnya ada kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang kepadanya tempat kembaliku. (HR. Muslim dalam Sahih-nya)

Al-Qur’an mengecam keras para pelaku kecenderungan ini dalam mengharamkan kebaikan-kebaikan dan perhiasan yang telah dikeluarkan oleh Allah Swt. bagi hamba-hamba-Nya. Allah Swt. telah berfirman dalam Al-Qur’an, yang termasuk surah Makiyah, "Wahai anak cucu Adam! Pakailah pa-kaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.(31) Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang ba-ik-baik?...(32) (Al-A’raf: 31-32)

Dalam Al-Qur’an yang termasuk surah Madaniyah, Allah berfirman ditujukan kepada masyarakat yang beriman, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepa-damu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.(87) Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.(88) (Al-Maidah: 87-88)

Kedua ayat mulia di atas menjelaskan kepada masyarakat beriman tentang hakikat manhaj Islam dalam menikmati kebaikan-kebaikan dan memerangi sikap berlebihan yang terdapat dalam sebagian agama. Riwayat turunnya ayat ini, bahwa sejumlah orang dari kalangan sahabat berkata, “Kita akan memotong kemaluan kita, meninggalkan nafsu syahwat, dan berjalan di penjuru bumi sebagaimana para pendeta.” Diriwayatkan pula bahwa ada beberapa orang yang hendak mengasingkan diri untuk beribadah, mengkhususkan diri mereka, dan mengenakan pakaian para pendeta, sehingga turunlah ayat tersebut.

Dalam Ash-Shahihaini disebutkan dari Aisyah r.a. bahwa ada beberapa orang di kalangan sehabat Rasulullah saw. yang bertanya kepada istri-istri Nabi saw. tentang amalan beliau dalam keadaan rahasia, lantas mereka menganggapnya terlalu sedikit. Salah seorang dari mereka mengatakan, ”Aku tidak akan makan daging.” Yang seorang lagi mengatakan, “Aku tidak akan menikahi wanita.” Yang lain mengatakan,”Aku tidak akan tidur di atas kasur.” Akhirnya kejadian itu didengar oleh Nabi saw., maka beliau bersabda,”Mengapakah ada orang-orang yang salah seorang dari mereka mengatakan begini dan begini, padahal aku berpuasa dan berbuka, tidur dan bangun, memakan daging, dan menikahi wanita? Barang siapa membenci sunahku, maka ia bukan dari golonganku.” [Sumber: Yusuf Qardhawi, Islam Radikal (terj.) oleh. Hawin Murtahdo. (Solo: PT Era Adicitra Intermedia, 2009)

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom