Kamis, 4 Januari 2018 17:30:14 WIB Dilihat : 30 kali

Bandung – Senin, 4 Desember 2017. Rombongan mahasiswa Manajemen Pendidikan Islam (MPI) 2015 tiba di Sekolah Menengah Atas (SMA) Plus Muthahhari, Kiara Condong, Bandung, Jawa Barat. Sekolah tersebut merupakan lembaga pendidikan swasta yang dibentuk dari perubahan pesantren mahasiswa sekaligus menjadi salah satu sekolah unggulan di Kota Bandung. SMA tersebut menjadi objek yang dikunjungi dalam serangkaian kegiatan Study Banding, 3-5 Desember 2017 bersama Dr. Zainal Arifin, S.Pd.I., M.S.I selaku Sekretaris Prodi MPI dan 82 mahasiswa (S1) MPI 2015.

SMA Plus Muthahhari sebelumnya merupakan sebuah pesantren yang didirikan pada tahun 1991 dan berubah menjadi SMA pada tahun 1992 dengan status terdaftar. Hal ini berdasarkan Surat Keputusan (SK) Izin pendirian sekolah dari Kantor Wilayah (Kanwil) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dengan No. 857/I02/Kep/E/1994 tanggal 11 Januari 1994. Kemudian, pada tahun 1996 mendapat status disamakan dari Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud) dengan nomor SK: 37/C/Kep/MN/1996 pada tanggal 26 Maret 1996. SMA Plus Muthahhari pada tahun 1998 diangkat sebagai sekolah model oleh World Bank, Depdiknas dan Departemen Agama (Depag).

SMA Plus Muthahhari berada di bawah naungan Yayasan Muthahhari. SMA ini pada tahun 2002 dijadikan sebagai salah satu sekolah uji coba pelaksanaan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) dari 40 SMA se-Indonesia dan salah satu sekolah uji coba pelaksanaan PBK (Pendidikan Berwawasan Khusus: Kepribadian dan Budi Pekerti) dari 8 sekolah yang ditunjuk oleh Departemen Pendidikan Nasional Pusat. Tahun 2005 ditunjuk sebagai sekolah berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). SMA Plus Muthahhari memakai istilah plus lantaran disamping kurikulum umum (kurikulum Depdiknas), ditambah dengan sejumlah mata pelajaran yang disusun oleh yayasan secara khusus dan beberapa pola pembinaan untuk mengembangkan akhlak.

Kepala Sekolah SMA Plus Muthahhari, Drs. Dede Anwar Suryana, M.M. dalam sambutannya menuturkan bahwa tujuan kami mendirikan sekolah ini adalah untuk mencetak anak-anak yang cerdas, kreatif dan berakhlak mulia. Selain itu, dalam sarasehan itu juga dihadiri oleh Miftah Fauzi Rakhmat, putra Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. yang merupakan pendiri Yayasan Muthahhari. Beliau juga berbagi ilmu dan bertukar pikiran mengenai konsep paradoks dalam dunia pendidikan. Dalam konsep keilmuan tersebut, beliau memaparkan bahwa sebuah paradoks memiliki substansi dua pernyataan atau bahkan lebih yang tampaknya benar namun lebih menyerupai kontradiksi atau mengarah kepada situasi yang terlihat bertentangan dengan logika ataupun intuisi.

Kompleksitas dari sebuah paradoks ini yang acapkali disalahartikan dengan kontradiksi dan penalaran dalam paradoks seringkali disederhanakan sampai hanya tersisa satu situasi dimana salah satu atau semua pernyataaan dalam sebuah paradoks itu adalah salah. Sementara itu, untuk dapat memahami sebuah kebenaran yang sifatnya adalah benar-benar “Benar”, maka pengertian di dalam konsep paradoks harus sanggup menjelaskan bahwa kedua pernyataan adalah benar-benar “Benar” dan merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak berkontradiksi antara pernyataan yang satu dengan pernyataan yang lain.

Namun, kebenaran yang sejati tidak akan pernah lepas dari paradoks. Semua kebenaran yang benar-benar “Benar” akan selalu berbentuk paradoks. Hal ini disebabkan paradoks akan dimunculkan keadaan yang saling seimbang di dalam pemikiran dan konsep yang seakan bertentangan, namun tidak saling menghancurkan. Selanjutnya, pihak sekolah menyampaikan beberapa hal yang menyangkut pendidikan di SMA Plus Muthahhari termasuk dari segi manajemen kurikulum sebagaimana yang dipaparkan berikut ini.

Selanjutnya, pihak sekolah menyampaikan beberapa hal yang menyangkut pendidikan di SMA Plus Muthahhari termasuk dari segi manajemen kurikulum sebagaimana yang dipaparkan berikut ini.

SMA Plus Muthahhari menggunakan metode pembelajaran yang sistematis. Pada awal masuk sekolah diadakan ujian lisan menghafal Al-Qur’an, yang dinamakan ujian Tahfidz Al-Qur’an. Dengan adanya ujian ini, harapannya agar para siswa memperoleh ilmu yang lebih mendalam dari kitab suci Al-Qur’an sekaligus menjadi penghafal Al-Qur’an.

Setelah menelaah berbagai macam penjelasan dan mengkritisi melalui sesi tanya jawab. Penulis berkesimpulan bahwa SMA Plus Muthahhari menggunakan sistem pembelajaran berbasis e-learning dalam rangka meraih visi dan misinya. Sistem pembelajaran ini sekaligus membuktikan bahwa SMA Plus Muthahhari sebagai sekolah berbasis TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).

SMA Plus Muthahhari memiliki visi dan misi. Di antara visi dan misinya ialah sebagai berikut. Visinya yakni untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tangguh dan kompetitif dalam menghadapi tantangan global.

Sedangkan misinya, yakni pertama, meningkatkan intelegensi. Intelegensia dikembangkan melalui metode berpikir kritis berdasarkan falsafah bahwa manusia memiliki potensi yang tidak terbatas. Kedua, mengembangkan kreativitas yang dikembangkan melalui metode rekreatif (X-day) berdasarkan falsafah upaya memaksimalkan, memacu bakat dan kemampuan yang dimiliki murid. Ketiga, menyempurnakan akhlak yang ditanamkan melalui pendekatan riyadhah (mistikal) berdasarkan falsafah bahwa manusia memiliki kemampuan rohani untuk menuju Allah Subhannahu Wa Ta’ala yang salah satu caranya adalah dengan berkhidmat pada orang-orang yang lemah.

SMA Plus Muthahhari begitu menjadi buah bibir lantaran prestasinya yang gemilang dan membanggakan, termasuk dalam merintis sekolah sehingga saat ini menjadi salah satu sekolah percontohan budaya literasi nasional. SMA ini pun bahkan telah melahirkan siswa yang berprestasi di kancah internasional. Di antaranya, Muhammad Fadhl dan Muhammad Haidar yang berhasil menyabet Medali Perak dalam Olimpiade Matematika dan Sains Internasional ke-8 di Iran pada hari Selasa, 4 Agustus 2015.

Hal ini membuktikan bahwa SMA Plus Muthahhari merupakan seolah para juara sehingga tak mengherankan jika pada tahun 2007 berhasil terpilih sebagai sekolah rintisan nasional. Kemudian, 2010 dinobatkan sebagai sekolah model SKM-PKBL-125 B.

Kurikulum yang digunakan oleh SMA Plus Muthahhari adalah menggunakan pendekatan kemendikbud, yayasan, dan murid. Adapun kurikulum tersebut dapat dirinci melalui beberapa kategori, yakni: Basic Islam, Ulumul Qur’an, Ulumul Hadist, Fiqh Al-Muqaranah, dan Tarikh Islam. Adapun penjelasaannya sebagai berikut ini:

Basic Islam atau dasar-dasar Islam, membahas tentang tata cara ibadah ritual, seperti wudhu, mandi, tayamum, shalat wajib, wirid sesudah shalat wajib, shalat-shalat nawafil, haji, do’a-do’a dan pengurusan jenazah, termasuk marhaba dan tahlilan.

Ulum al-Qur’an, membahas pengantar Ulum al-Qur’an, wahyu, nuzul al-Qur’an, pengumpulan mushaf Al-Qur’an, rasm Utsmani, surat, ayat, nasikh-mansukh, I’jaz al-Qur’an, tahrif Al-Qur’an, istilah teknis Ulum al-Qur’an, tafsir, mufasir dan karyanya.

Ulum al-Hadist, membahas pengantar Ulum al-Hadits, sejarah perkembangan tadwin Al-Hadits, rawi, ilmu riwayat, ilmu sanad, jenis hadits, ilmu matan, kitab hadits, dan bimbingan penelitian hadits.

Ushul al-Fiqh, membahas pengantar Ushul al-Fiqh, sejarah perkembangan ilmu Ushul al-Fiqh, hukum syari’at, hukum wadh’I, hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah, metode istinbath hukum, dilalah, kedudukan lafadz dari segi syumuliyah dan mengenal kaidah ushuliyah.

Fiqih Muqaranah, membahas pengantar Fiqih Muqaranah, tarikh tasyri’, lima mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hambali dan Ja’fari), kajian tentang thaharah, wudhu dan tayamum, shalat, zakat, puasa dan haji menurut lima mazhab.

Kurikulum ini dilaksanakan dengan dua kategori, yaitu mata-mata pelajaran yang diselenggarakan dengan tatap muka di kelas dan ada yang tidak diselenggarakan dengan tatap muka, yakni memakai sistem test out. Yang dilaksanakan dengan tatap muka di kelas, yaitu mata pelajaran: Pendidikan Agama Islam, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi, Sosiologi, IPS (Khusus di Jurusan IPS) Mata pelajaran yang tidak ditatapmukakan adalah: PKn, Sejarah (kecuali di Jurusan IPS), Geografi (kecuali di Jurusan IPS)

Selanjutnya, kurikulum yayasan ini adalah kurikulum yang berorientasi pada mutu dan ciri khas SMA Plus Muthahhari dalam menyelenggarakan program-program khas, yaitu Bahasa Arab, Dirasah Islamiyah, Bahasa Inggris Khas dan Komputer (Internet).

Berikutnya, kurikulum murid adalah kurikulum yang programnya dirancang oleh murid-murid dalam rangka mengembangkan bakat dan kreativitas mereka. Kurikulum ini dilaksanakan dengan nama X-Day yang dilaksanakan setiap hari Rabu. Kurikulum ini meliputi program pengembangan bahasa, seni, olah raga, dan kegiatan-kegiatan kreativitas lainnya. Pada hari itu murid-murid diperbolehkan memakai pakaian bebas.

Dalam Basic Islam terdapat Wirid Tawasul dan Manasik Haji yang diajarkan untuk siswa-siswi kelas 10. Sedangkan untuk pembelaran Ulumul Qur’an, Ulumul Hadis, Ushul Fiqh diajarkan untuk kelas 11. Sedangkan, Fiqh Al-Muqaram lebih menitikberatkan kepada fiqh, seperti hanafi, hambali, maliki, dan syafi’i. Namun, fiqh begitu luas. Adapun Tarikh Islam dimaksudkan untuk mempelajari sejarah islam yang kafah. Seiring peradaban zaman, sejarah islam terkadang disalahartikan atau bahkan melenceng dari jalan kebenaran. Maka, Tarikh Islam di sini dijadikan sebagai khazanah pengetahuan yang kafah.

SMA Plus Muthahhari juga menggunakan metode pembelajaran quantum learning, bram base learning, accelerated learning, test out system, dan multiple intelegence. Adapun dalam masalah riyadhah ada beberapa hal, yakni kegiatan shalat berjamaah, doa malam jum’at, ke tempat ibadah agama lain, SC (Spiritual Camp), Spiritual Work Camp (SWC), dan temu pakar ulama.

Selain itu, SMA Plus Muthahhari juga mengadakan kegiatan ekstrakurikuler menjembatani kebutuhan perkembangan peserta didik yang berbeda, seperti perbedaan sense akan nilai moral dan sikap, kemampuan, dan kreativitas. Melalui partisipasinya dalam kegiatan ekstrakurikuler peserta didik dapat belajar dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama dengan orang lain, serta menemukan dan mengembangkan potensinya. Kegiatan ekstrakurikuler juga memberikan manfaat sosial yang besar.

Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kurikulum standar sebagai perluasan dari kegiatan kurikulum dan dilakukan di bawah bimbingan sekolah dengan tujuan untuk mengembangkan kepribadian, bakat, minat, dan kemampuan peserta didik yang lebih luas atau di luar minat yang dikembangkan oleh kurikulum.

Berdasarkan cakupan tersebut, maka kegiatan di sekolah atau pun di luar sekolah yang terkait dengan tugas belajar suatu mata pelajaran bukanlah kegiatan ekstrakurikuler. Ekstrakurikuler wajib merupakan program ekstrakurikuler yang harus diikuti oleh seluruh peserta didik, terkecuali bagi peserta didik dengan kondisi tertentu yang tidak memungkinkannya untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut. Ekstrakurikuler pilihan merupakan program ekstrakurikuler yang dapat diikuti oleh peserta didik sesuai dengan bakat dan minatnya masing-masing.

“Studi banding di SMA Plus Muthahhari ini luar biasa. Wawasan kita jadi terbuka tentang banyaknya mazhab dan golongan dalam Islam. Selain itu, kita tidak hanya menghormati sesama muslim, melainkan juga dengan keyakinan lain. Semoga ke depannya studi banding MPI tidak hanya di dalam negeri saja, melainkan juga dapat terlaksana ke luar negeri,” ujar Ketua Panitia Studi Banding MPI 2015, Beny Wahyu Hidayat dalam sambutannya.

Kegiatan studi banding ini telah dipersiapkan dan berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Intinya untuk membandingkan kondisi objek studi di tempat lain dengan yang ada di tempat sendiri. Selanjutnya, untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang akan diterapkan ke depannya agar menjadi lebih baik. Hal ini juga dilakukan untuk mengkomparasikan konsep belajar. Hasilnya berupa pengumpulan data dan informasi yang digali sebanyak mungkin dengan prinsip ilmiah sebagai bahan acuan dalam perumusan konsep yang diinginkan.

Selain itu, secara tidak langsung prodi MPI telah menunjukkan interaksinya melalui SMA Plus Muthahhari yang eksistensi organisasi islamiahnya merupakan syiar Syiah. Hal ini untuk berafiliasi dengan ormas tersebut. Selain merujuk kepada Nahdatul Ulama ataupun Muhammadiyah sebagai ormas mayoritas di Indonesia. (Sumber: Adenar Dirham – Humas MPI 2015)

Berita Terkait

Berita Terpopuler

Arsip Pengumuman
Arsip Berita
Arsip Agenda
Arsip Kolom